http://www.adnananwar.net

Teman Baru PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Cerpen
Written by adnan anwar   
Saturday, 24 July 2010 23:37
Udara di sini membuat seluruh tubuhku berkeringat. Panas. Matahari bersinar memancarkan panasnya seperti tak peduli pada orang-orang di sini yang semakin kegerahan. Memang beda dengan tempat asalku di Kalimantan di Jawa lebih panas. Tak tahu mengapa padahal dari garis khatulistiwa lebih dekat Kalimantan daripada Jawa. Tetapi untung saja aku mempunyai ibu yang selalu di dekatku, siap melayani apapun kebutuhanku dan bagaimanapun keadaannya.

“Sss…..t, jangan menangis terus!” Ibuku mengibaskan kipas di tangannya sambil mengendong aku. Aku ingin bicara banyak padanya tetapi kalau aku bicara ibu selalu menanggapi dengan perkataan :”Jangan menangis!” dan dikiranya aku lapar. Disodorkannya sebotol susu ke mulutku. Aku tak mau minum. Aku tak lapar. Aku hanya ingin mengungkapkan rasa sayangku padanya.

“Dari tadi nangis terus, sini gantian , biar aku yang gendong. Anak manis sama bapak, ya!” Kali ini aku pindah tangan. Ayahku sangat baik, kadang diceritakannya tentang bebek, tentang rosul, tentang islam dan masih banyak lagi. Beliau selalu mengatakan, “Besok kalau sudah besar harus jadi orang yang bertakwa, berbakti pada orang tua.” Begitu katanya.

Aku dibawa keluar oleh bapakku. Aku diam, soalnya kalau ngomong akan membuat ayah dan ibuku sedih dan murung. Udara lebih segar di luar. Banyak pepohonan, itulah yang aku suka di Jawa. Di Kalimantan juga ada pohon tetapi beda dengan di sini. Di sini pohonnya kecil-kecil, aku bisa menyentuh ujungnya, itupun kalau ada yang menolongku. Sementara ayahku terus berjalan melewati halaman, masuk ke jalan depan rumah lalu belok kiri. Aku mengamat-amati pemandangan di sekitar jalan.

“Lihat. Orang-oranmg sedang gotong-royong.” Sambil memutar badan ayah menghadapkan mukaku ke orang-orang di jalan yang sedang ramai. Rupanya ini yang dinamakan gotong-royong. Sangat beragam pekerjaan mereka. Ada yang mengambil pasir, menata batu, ada juga yang banyak omong, tuding sana tuding sini.

“Yang menunjuk-nunjuk iu pemimpinnya, Nak. Kalau sudah besar kamu juga harus jadi pemimpin. Jangan hanya jadi kacung yang kerjaannya hanya diperintah orang.” Kami berhenti di atas jembatan, kira-kira lima meter dari orang-orang yang sedang gotong-royong. Aku terus mencoba menangkap apa yang dikatakan ayah.

Kuperhatikan mereka sangat bersemangat. Diantara orang-orang itu terlihat seorang anak, tapi agaknya aneh. Celananya pendek hitam dan telanjang dada. Ia juga memperhatikan orang-orang tapi tak ikut bekerja. Aku memperhatikannya dari jauh.
Last Updated on Saturday, 24 July 2010 23:45
 
Penggantian Trafo di Sukasari PDF Print E-mail
Berita - Galery Foto
Written by adnan anwar   
Saturday, 24 July 2010 00:10
sukasari
 
Alhamdulillah, sekarang saya sudah bekerja kawan. Di PT. PLN(Persero) bidang distribusi Jawa Barat dan Banten. Tepatnya di kota Cianjur. Nha, kali ini saya tampilkan salah satu kenangan bekerja di Cianjur.

Foto ini diambil dari pinggir danau tempat waduk Jatiluhur berada. Tepatnya di desa Sukasari. Perjalanan ke sana memiliki tujuan utama untuk melakukan pemeliharaan jaringan listrik berupa pemangkasan pohon di sekitar kawat penghantar dan penggantian trafo SUS yang sudah mengalami kebocoran.

Ini adalah kali pertama saya datang ke sana. Sudah sangat terkenal daerah ini yang lebih dikenal dengan Gunung Buled. Tempatnya paling jauh jika diukur dari kantor tempat saya bekerja. Selain tempatnya yang jauh, medan yang dilalui juga sangat menantang. Hutan belantara yang masih asri dan jalan berkelok-keok serta keadaan jalan yang jauh dari layak. Sempet beberapa kali mobil yang saya tumpangi terperosok sehingga harus didorong.

Berangkat dari kantor pukul 10.00. Awalnya saya pengin bawa baju ganti tetapi teman kerja (Haris) bilang,”Ah, ntar sore juga dah pulang.” Jadi saya batalkan, eh ternyata mpe nginep beneran. Jadi dua hari ga mandi...hehehehe... Sambil menelusuri jalan kami mengamati keadaan di sekitar kawat penghantar. Jika ada yang membahayakan maka kami berhenti dan melakukan pemangkasan(tepatnya saya cuman menganwasi...he3x...).

Jam 13.00 kami tiba di puncak pegunungan, mencari tempat lapang dan melakukan makan bersama. Sungguh kawan, di saat seperti ini makanan apapun jadi enak rasanya. Tidak terlalu istimewa baik lauk maupun nasinya tetapi rasanya jauh lebih enak daripada masakan padang. Perjalanan kami lanjutkan untuk menuruni bukit.
Last Updated on Saturday, 24 July 2010 00:20
 
“Tabung Gas Meledak”???? PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Opini Umum
Written by adnan anwar   
Friday, 23 July 2010 00:09
Akhir-akhir ini marak sekali pemberitaan tentang banyaknya kejadian tabung gas meledak. Dari sekian media massa yang saya lihat dan saya baca, semuanya menyalahkan pemerintah dan PT. Pertamina sebagai perusahaan yang mengeluarkan produk tersebut. Sebagai manusia yang berpendidikan sudah selayaknyalah kita memandang segala sesuatunya dengan arif dan bijaksana. Benarkan kejadian ini, yang sudah sangat jelas merugikan rakyat kecil, adalah murni kesalahan pemerintah dan PT. Pertamina? Yuk, kita bahas bersama-sama.

Sebenarnya saya kurang setuju dengan istilah “TABUNG GAS MELEDAK”. Benarkah kejadiannya memang tabungnya meledak? Saya sedikit menyangsikan. Dari media massa sendiri sudah sering menyebutkan bahwa awalnya tercium gas yang menandakan ada gas yang keluar dari tabung. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa keluarnya gas dari tabung tidak hanya karena tabungnya tang bocor tetapi bisa juga selangnya. Hal ini kurang disoroti oleh media massa sepertinya.

Begitu banyaknya sorotan tentang tabung gas yang tidak sesuai standart kelayakan tetapi tidak diimbangi dengan banyaknya juga selang tidak sesuai standar. Menurut pemikiran saya, kemungkinan selang bocor lebih besar daripada tabung gasnya yang bocor. Ketika gas sudah memenuhi ruangan maka seperti yang diiklankan di televisi oleh PT. Pertamina, buka semua jendela dan pintu dan bawa gas keluar ruangan(jangan kena matahari langsung). Dan jangan menyalangan api atau listrik. Dari berita di televisi kejadiannya adalah pengguna sudah tahu ada bau gas tetapi tidak melaksanakan prosedur di atas sehingga jelas saja gas yang sudah ada di ruangan terbakar dan membakar apa saja yang ada di situ. Nha, kejadian seperti ini apakah bisa disebut tabung gas meledak? Walaupun akhirnya nanti, api akan merambat ke sumber bocornya gas, akhirnya masuk ke tabung, dan membuat tabung meledak.
 
Petir...oh...Petir PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Sok Ilmiah
Written by adnan anwar   
Tuesday, 20 July 2010 23:45
Hey, Kawan!! Tahu kan yang namanya petir? Pasti tahu dong... Itu lho, yang biasanya keluar jika hujam turun. Saya masih ingat, sewaktu duduk di kelas 3 SLTP, kami ditanya oleh guru elektronika,”Bagaimanakah terjadinya petir? Mengapa kadang diikuti dengan suara yang menggelegar tetapi kadang tidak?” Sulit juga kami menjawabnya. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini(pengertian bisa anda cari  di wikipedia). Saya lebih tertarik oleh pertanyaan menggelitik, mengapa jika terjadi petir, cahanya dulu kelihatan baru suaranya belakangan mengikuti?

Nha, yuk kita simak tulisan berikut. Bagi yang tidak pernah belajar IPA pasti kurang familiar dengan rumus kecepatan v = s/t atau besarnya kecepatan suatu benda sama dengan jarak yang ditempuh oleh benda tersebut dibagi dengan waktu yang dibutuhkan. Nha, petir juga merupakan sebuah benda, ia adalah elektron yang berpindah. Elektron bergerak sama dengan kecepatan cahaya yaitu 300.000.000 m/s. Wah, cepat sekali ya? Sama dengan sinar matahari yang menempuh jarak dari matahari sampai di bumi hanya butuh waktu 10 menit.

Ketika terjadi petir, ia akan langsung memancarkan cahaya. Nha, cahaya tersebut merambat dan sampai di tempat kita berada sehingga kita melihatnya. Jika jarak kita dengan sumber petir 5 Km, misalnya maka dengan kecepatan cahaya, kurang dari 1 deti sudah sampai di tempat kita.
Last Updated on Tuesday, 20 July 2010 23:48
 
Media Massa Penguasa Informasi PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Opini Umum
Written by adnan anwar   
Tuesday, 20 July 2010 00:08
Lihatlah Indonesia saat ini. Semakin maju atau semakin mundur? Silakan dijawab dengan persepsi masing-masing. Teknologi informasi menjadi tulang punggung bagi tersebarnya perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia. Apakah kemudian kita menjadikan apa yang tertulis di media massa sebagai tolok ukur perkembangangan bangsa ini? Mari kita talusuri lebih lanjut.

Kalo anda adalah orang yang suka membaca utamanya adalah berita, entah itu dari koran, radio, televisi atau membaca di internet pasti akan merasa jenuh. Mengapa jenuh? Karena yang disajikan di sana sebagan besar adalah berita negatif yang membuat miris orang-orang yang masih memiliki hati nurani. Tabung gas meledak, longsor, pesawat tergelincir, kecelakaan kereta, pornografi, perampokan, penganiayaan, dan masih banyak lagi. Bandingkan dengan berita-berita yang bernada positif seperti : Indoenesia juara badminton, profil sukses pengusaha, sukses seorang guru, laba dan lain sebagainya. Anda bisa menyimpulkan sendiri.

Pertanyaan saya adalah mengapa demikian? Ada dua hal yang saya dapatkan. Pertama karena memang kejadian-kejadian di Indonesia adalah sebagian besar negatif. Atau dengan kata lain memang tidak ada kejadian positif yang bisa diangkat menjadi berita di media massa. Kedua, sebenarnya ada, banyak lagi, tapi kurang bernilai profit yang bisa meningkatkan rating media massa terkait dan pemasang iklan sehingga tidak diberitakan di media massa.

Kalo kita mau berprasangka baik dengan Indonesia maka kita milih kemungkinan kedua tetapi jika kita mau berprasangka baik dengan media massa maka kita memilih kemungkinan pertama. Sebenarnya mana yang benar? Wallahhua’lam, hanya Allah yang tahu. Tapi yang ingin saya komentari adalah masalah kuantitas. Ketika ada sebuah berita yang mulai diperbincangkan orang maka media massa langsung mengulasnya habis-habisan. Tidak segan-segan mengulangnya sehari tiga kali kayak minum obat.
 
Jika Sudah Mantap Tunggu Apa Lagi PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Opini Pribadi
Written by adnan anwar   
Sunday, 18 July 2010 23:14
Kita hidup dalam sebuah keadaan yang sudah sangat beragam. Variansi permasalahan jauh lebih banyak daripada kehidupan pada zaman sebelumnya. Sebagai manusia yang hidup pada zaman sekarang maka kita harus bisa mengkuti perkembangan. Tuntutan akan pemikiran dan kecerdasan yang meningkat harus kita imbangi dengan usaha keras kita untuk memperolehnya.

Berbagai macam permasalahan yang muncul menuntut kita untuk semakin cerdas dalam mengambil keputusan. Salah sedikit saja maka bisa berbuntut panjang di kehidupan pada masa mendatang. Kompleksitas permasalahan juga memunculkan konpleksitas solusi yang ditawarkan. Semakin banyak solusi maka semakin membutuhkan persiapan dan pemikiran yang matang.

Sesuatu yang sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Itulah prinsip yang harus kita pegang menghadapai tantangan-tantangan tersebut. Artinya, selama kita masih punya keyakinan yang kuat disertai dengan usaha yang sebanding kuatnya maka keakuratan pengambilan keputusan bisa didekatkan ke angka 100%. Keputusan yang sudah diambil bukan berarti permasalahan selesai. Bagaimana tindak lanjutnya? Itulah yang tidak kalah pentingnya.

Keputusan yang baik harus ditindaklanjuti dengan tindakan yang baik pula. Tidak jarang kita sudah memutuskan sesuatu yang sangat penting bagi kita dalam hati. Sebegitu mantapnya keputusan yang sudah kita ambil sehingga seolah permasalahan itu telah selesai dengan sendirinya, padahal kenyataannya belum. Keputusan yang hanya dipendam dalam hati seperti air minum yang masih di dalam botol. Tidak bisa dirasakan sampai masuk ke mulut sehingga tahu segarnya.
 
Jagalah Perasaanmu, Kawan!! PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Nasehat
Written by adnan anwar   
Sunday, 18 July 2010 00:12
Tahukah, Kawan? Hati memiliki misteri yang sangat dalam. Yak seorang pun bisa memecahkannya walaupun dengan penelitian secanggih apapun. Karena hati adalah ciptaan Allah, bukti keagungan-Nya, bukti kebesaran-Nya. Dan merupakan peringatan kepada seluruh umat manusia agar selalu menjaganya agar tidak menjadikan malapetaka.

Hati adalah tempat di mana perasaan manusia bersemayam. Ia menjadikan manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan. Dengan hati manusia bisa mencintai tetapi bisa juga membenci. Tak ayal lagi, bahwa kedua perasaan tersebut adalah bagai dua mata pisau yang saling mempengaruhi. Yuk, kita coba ulas bersama...!!

Mencintai adalah perasaan yang sangat mulia. Dengan mencintai maka segala macam perbedaan menjadi satu padu. Kehidupan menjadi menyenangkan penuh dengan hal-hal positif. Bagaimana tidak, dari perasaan cinta akan muncul hal-hal yang tadinya tidak bisa terjadi. Perselisihan yang tadinya rumit menjadi begitu mudah diselesaikan. Yah, itu karena ada cinta di hati seseorang.

Sebaliknya adalah perasaan membenci. Rasa ini adalah kebalikan dari rasa cinta. Ia memberikan efek yang cenderung negatif. Kebanyakan rasa benci menjadikan kehidupan menjadi tidak menyenangkan. Ada rasa tidak tenang yang selalu menghantui setiap perjalanan yang kita lalui. Dengan membenci seseorang artinya kita sudah menandatangani kontrak untuk selalu berprasangka buruk kepadanya, selalu berfikir bagaimana menjatuhkannya, dan perilaku-perilaku negatif lainnya.
Last Updated on Sunday, 18 July 2010 00:24
 
Yakinlah Maka Kau Akan Berhasil PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Nasehat
Written by adnan anwar   
Tuesday, 06 July 2010 00:18
Begitu banyak hal di dunia ini yang membutuhkan pengambilan keputusan. Ada yang waktunya banyak tetapi ada juga yang waktunya sangat singkat alias mepet. Dalam setiap pengambilan keputusan selalu saja ada resiko yang mengikutinya. Resiko inilah yang kadang membuat kita ragu alias mangu-mangu, apakah pengambilan keputusan yang kita lakukan sudah tepat atau belum. Maka keraguan inilah yang kadang justru membuat keputusan yang seharusnya benar menjadi salah.

Bagaimana bias demikian? Harus kita pahami bahwa pengambilan keputusan yang tepat harus selalu diikuti dengan tindakan yang tepat pula. Yang lebih penting justru adalah tindakan yang mengikutinya. Sesalah apapun pengambilan keputusan yang dilakukan, jika diikuti dengan tindakan yang tepat maka kesalahan tersebut bias segera diperbaiki. Sehingga yang tadinya salah menjadi benar.

Sebaliknya keputusan yang benar akan menjadi salah ketika tidak diikuti dengan tindakan yang benar. Hal ini sangat sering terjadi. Dan kebanyakan hal ini terjadi karena keragu-raguan. Ketika keputusan sudah diambil maka sebenarnya tidak ada peluang untuk mengubahnya. Yang bias kita lakukan adalah menindaklanjutinya. Kadang kita terlalu focus untuk memikirkan bahwa keputusan itu salah dan berfikir seandainya bias diulang kembali.

Percuma, berfikir seandainya hanya akan membuang-buang waktu yang seharusnya bias kita gunakan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Begitu banyak orang meragukan keputusannya sendiri dan berakibat kegagalan. Bukan keputusannya yang membuat dia gagal tetapi sikapnya terhadap keputusan yang ia ambil. Sangat penting untuk memahami bahwa masa lalu tidak dapat diubah dengan tangan kita, masa sekaranglah yang bias kita ubah sesuai dengan kehendak kita.
 
Perhentian PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Opini Pribadi
Written by adnan anwar   
Monday, 05 July 2010 14:15
Di kala kaki sudah sangat letih, pandangan mulai kabur, dan nafas mulai terasa berat. Akankah perjalanan ini diteruskan. Kewajiban adalah suatu hal yang harus kita laksanakan tetapi seolah kemampuan badan mengatakan Sesuatu yang lain. Mereka mengeluh satu per satu, mengatakan bahwa perjalanan ini harus dihentikan. Pikiranku mengatakan bahwa hanya akan menambah penderitaan mereka ketika perjalanan ini diteruskan.

Ada satu organ yang berbeda pendapat dengan mereka. Ia mengatakan bahwa hidup ini bukan milik kita, bukan hanya mengenai kita seorang diri. Ada banyak orang lain yang menggantungkan hidupnya terhadap perjalanan ini. Kalo kita berhenti sekarang maka sama saja mengecewakan orang-orang tersebut. Bahkan mungkin tidak hanya mengecewakan tetapi juga melukai mereka semua. Dan yakinlah kita semua tidak menginginkan hal yang semacam itu.

Semua organ berfikir ulang. Kaki mencoba mengumpulkan kekuatannya kembali untuk melangkah. Mata mencoba untuk membuka kelopaknya lagi sehingga bias memberikan gambaran arah kepada kaki. Jantung pun semakin semangat memompakan darah ke semua organ yang membutuhkannya. Tetapi sekali lagi, keletihan itu sudah sangat luar biasa besarnya. Semua organ mengeluh kembali dan meminta solusi kepada hati. Hati menangis karena tidak bias berbuat banyak kepada orang lain.

Ia berkata, kita harus tetap menerukan perjalanan ini tetapi kita juga tidak bias memaksakan diri seperti ini karena memang kemampuan kita terbats. Okelah kita berhenti saja dulu. Kita kumpulkan kekauatan untuk meneruskan kembali beberapa waktu kemudian. Semua pun setuju untuk berhenti sejenak, bukan untuk menyerah tetapi untuk mengumpulkan energy dan menyusun strategi menghadapi perjalanan di depan yang masih panjang dan penuh dengan hambatan.

ketika waktu sudah berjalan beberapa waktu, semua siap untuk berangkat kembali. Semangat sudah muncul kembali. Tetapi ada satu yang tidak mau. Ia mengatakan “jangan”. Jangan teruskan perjalanan ini, jika tidak salah satu dari kita akan terluka bahwa kehilangan fungsinya. Secara logika, kekuatan kita sudah sampai pada batas maksimumnya. Melanjutkan perjalanan ini sama saja mencari penderitaan yang pastinya merugikan diri kita sendiri. Otaklah yang mengatakan itu.

Semua merenung kembali, semua bimbang mana yang harus diikuti, hati ataukah otak? Kebimbangan itu membuat perjalanan terhenti sejenak. Sampai akhirnya hati berkata lagi. Ayolah kawan, banyak orang menunggu kita di tempat tujuan. Berharap-harap cemas menunggu kedatangan kita. Hidup mereka bergantung pada diri kita jika kita menyerah sekarang maka sama saja membunuh mereka semua. Mari kita mencoba untuk melebihi batas kemampuan kita. Kita pasti bias. Ada hal yang lebih besar dan lebih berharga daripada hanya sekedar diri kita ini. Tumbuhkan semangat kalian.

Semuanya akhirnya sepakat untuk berjalan lagi. Melalui jalan yang terjal dan berliku menuju tempat yang entah seberapa jauh lagi jaraknya. Tetapi yang penting bukan jaraknya tetapi seberapa keras kita berusaha untuk mencapainya.   

 
Kisah Pendadaranku PDF Print E-mail
Buah Pikiran - Curhat
Written by adnan anwar   
Friday, 09 April 2010 03:42
Setelah sekian lama berjuang dengan pengerjaan tugas akhir yang melelahkan akhirnya dosen pembimbing memberikan tanda tangan terakhirnya pertanda skripsi yang saya kerjakan tersebut siap untuk diujikan. Hari senin, tanggal 29 Maret 2010 jadwal ujian pendadaran diumumkan. Nama saya tertera di sana dengan keterangan tanggal 6 April 2010 urutan yang ketiga. Alhamdulillah, batin saya. Melihat dosen penguji insyaALLAH tidak terlalu mengerikan…hehehehehe….

Hari Selasa, 6 April 2010 adalah hari besar bagi saya. Jam 07.30 saya berangkat dari kost dan sampai di kampus sepuluh menit kemudian. Dua teman saya yang ujian pada hari dan ruang yang sama sudah datang. Kami bertiga menunggu dimulainya urutan pertama, lamaaaa….sekali. Jam 08.40 ujian baru dimulai. Debaran jantungku mulai beranjak naik. Empat puluh lima menit menunggu, urutan pertama selesai dilanjutkan urutan kedua. Mendengar cerita dari teman yang sudah selesai tadi membuat jantungku semakin berdebar. Satu jam akhirnya urutan kedua keluar. Tibalah saatnya.

Saya masuk, keempat dosen penguji masih sibuk saling tukar lembaran kertas yang saya tidak tahu apa isinya. Saya mempersiapkan laptop dan viewer.

“Silakan anda mengisi daftar hadir dulu!!” Ketua sidang meminta saya. Waduh, celaka dua belas. Saya tidak membawa pulpen. Bisa-bisanya saya tidak membawa barang sepenting itu. Saya minta ijin keluar dulu, pura-pura pulpen saya ketinggalan di tas.
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 14
ADNANANWAR.NET
Selamat membaca, jangan sungkan tuk ninggalin pesan atau komentar, ya .....


Leave Comment

Name :
URL :
Message:
:) :( :D :p :(( :)) :x

Polls

Bagaimana menurut anda website ini?