| Lomba Nasyid di UII |
|
|
|
| Berita - Nostalgia |
| Written by adnan anwar |
| Monday, 29 March 2010 05:01 |
|
Mengenang masa lalu menjadikan kita semakin bijak dalam mengarungi samudra kehidupan yang semakin besar gelombangnya ini. Bukan berarti kita selalu berfikir ke belakang tetapi menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk meningkatkan kualitas kehidupan di masa mendatang adalah sesuatu yang bijaksana. Bahkan seorang sopir pun secara berkala akan melihat spion untuk mengetahi apa saja yang telah dilaluinya. Kejadian ini saya alami ketika duduk di kelas 1 SMA. Keaktifan saya di organisasi keagamaan di sekolah membuat saya dan beberapa teman sering berkumpul untuk membicarakan berbagai macam kegiatan yang akan dilaksanakan. Ide untuk membentuk tim nasyid muncul dari salah seorang teman dari kelas 1.2, namanya Jokos Susilo. Orangnya periang dan terkesan apa adanya, ngomong ceplas-ceplos tapi tidak menyinggung. Ia mengutarakan bahwa kelas 3 dan 2 sudah ada tim nasyidnya lalu mengapa tidak kita membentuk tim nasyid kelas 1? Terbentuklah sebuah tim nasyid dengan beberapa anggota. Joko Susiloa tentunya, saya sendiri, Dimas Iwandanu, Andi, Akmal, Ibnu, dan Rano. Pembagian yang sudah jelas adalah Andi di suara 1 dan Ibnu di suara bass, yang lainnya nggak jelas. Maklumlah masih baru dan belum punya pengalaman. Latihan pun mulai kami lakukan. Kalo nggak salah tiap hari Kamis sore.
Berlatih sendiri ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Tidak ada yang bisa memberikan petunjuk bagaimana bernasyid yang baik karena memang pada dasarnya tidak ada yang punya basic kemampuan ataupun kemampuan bernasyid. Hanya Rano yang pernah punya pengalaman di seni suara sewaktu SMP tetapi nasyid tentu berbeda dengan seni suara yang ia geluti dulu. Akhirnya kami memutuskan untuk minta diajari oleh tim nasyid kelas 2. Tidak sesuai harapan, mereka sendiri masih agak kacau. Meskipun sedikit lebih baik daripada kami tetapi tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepada kami. Keputusan jatuh ke tim nasyid kelas 3. Lumayan. Mereka sudah punya pengalaman manggung di sana sini. Yang paling sering melatih kami waktu itu adalah Mas Egha, Mas Aldi, Mas Denis, dan Mas Bayu. Perlahan-lahan latihan kami menunjukkan hasil. Hingga ada undangan lomba nasyid yang diadakan oleh Uniersitas Islam Indonesia. Dengan semangat membara kami mendaftar. Kalo tidak salah biaya pendaftaran ditanggung oleh organisasi. Dengan semangat kami berlatih lagu wajib yang harus dilantunkan yaitu I’tiraf yang dibawakan oleh salah satu tim nasyid paling beken dari Malaysia. Lagu kedua adalah pilihan tapi saya lupa kami memilih apa dulu. Hari perlombaan pun tiba. Tidak disangka ternyata pesertanya hanya ada tiga tim, yaitu kami kemudian tim dari SMA 4 Yogyakarta dan satu lagi saya lupa. Kami mendapat giliran yang pertama. Deg-degan tapi menyenangkan. Kami tampil loss saja tak peduli hasilnya gimana yang penting tampil sebaik mungkin. Alhamdulillah, kami berhasil menampilkan performa terbaik kami. Pada saat pengumuman, kami deg-degan. Bukan karena ingin juara 1 tetapi takut berada di rangking 3, lha pesertanya kan cuma 3. Rasa penasaran kami berganti menjadi rasa senang dan gembira ketika yang menjadi juara pertama adalah tim kami. Sungguh tak disangka. Sebenarnya tim dari SMA 4 lebih bagus performa maupun suaranya tetapi di tengah penampilan lead vocalnya lupa lirik sehingga sempat terhenti beberapa saat. Sehingga kamilah yang jadi juara 1. Selain piala, kami juga dapat uang saku 300 ribu. Uang tersebut kami gunakan untuk membeli rebana. In memories : Andi, Joko, Rano, Akmal, Dimas Semoga Allah selalu melindungi kalian……
Set as favorite
Bookmark
Email This
Hits: 146 Comments (0)
![]() Write comment
|
| Last Updated on Monday, 29 March 2010 05:07 |















