|
Buah Pikiran -
Opini Pribadi
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Thursday, 26 August 2010 21:46 |
|
Bulan Ramadhan masih kita jalani bersama hari ini. Bulan yang selalu dinanti oleh sebagian umat Islam di seluruh Indonesia. Lho, kok kalimatnya “sebagian”, biasanya kan semuanya? Ah, itu karena saya mendapati realita bahwa memang tidak semua umat Islam di seluruh dunia merindukan datangnya bulan Ramadhan. Buktinya tidak ada greget yang mereka tunjukkan ketika sudah memasuki bulan Ramadhan yang mulia. Maaf, kalo saya agak berkonotasi jelek. Tapi ini bukan prasangka apalagi pendapat belaka. Saya melihatnya sendiri. Beberapa hari yang lalu, setelah buka puasa bersama dan sholat maghrib saya segera bersiap-siap untuk datang ke masjid untuk menunaikan sholat tarawih berjamaah. Mesjid tidak terlalu jauh, paling cuman 100 meter saja. Saya mengajak salah satu teman yang kebetulan bersama saya waktu itu dan dia setuju untuk berangkat bersama. Saya senang karena tidak akan berangkat sendiri. Bagaimanapun juga ada teman akan lebih memberikan semangat daripada berangkat sendiri.
Pada saatnya, saya sudah mengambil air wudhu. Saya ajak dia,”Ayo berangkat!!” Dan dia menjawab,”Nggak jadi, saya diajak ke supermarket sekalian mau beli sop buah.” Astaghfirullah, mengapa tidak dari tadi. Mengapa waktunya bersamaan dengan adzan isya’ dan sholat tarawih. Bahkan, ajakan saya untuk menggapai surga kalah dengan ajakan teman lain untuk pergi ke supermarket dan membeli sop buah.
Tadi malam, saya mengajak lagi orang yang sama. Waktunya pas hampir adzan Isya’. Jawabannya,”Saya nggak tarawih, lagi pengin sop buah lagi.” Haduh, masak pahala sholat Isya’ dan tarawih berjamaah dibandingkan dengan sop buah. Dan kok, ya belinya nggak dari tadi sebelum buka puasa misalnya. Kan jusru lebih enak, buka puasa yang seger-seger. |
|
Berita -
Kisah Hikmah
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Monday, 23 August 2010 23:10 |
|
Ahad, 22 Agustus 2010 Pagi hari saya menata kamar karena memang sudah menjadi kebiasaan pada hari Ahad, saya melakukan kegiatan beres-beres kamar. Berharap agar pada hari Senin berikutnya yang merupakan hari pertama kerja, mendapati kamar dalam kondisi bersih dan rapi. Memberikan semangat sebelum berangkat kerja. Salah satu yang saya cek adalah kondisi barang-barang yang ada di kamar saya.
Ternyata saya dapati resleting tas yang biasa saya bawa untuk kerja rusak. Waduh, harus ganti sepertinya. Terbersit dalam pikiran saya bahwa harus keluar uang lagi untuk membeli dan membayar jasa penggantian resleting yang baru. Paling tidak minimal Rp 25.000,00 uang harus keluar. Ah, tidak apa-apa yang penting tas saya kembali normal seperti semula.
Akhinya saya putuskan untuk mencari tukang jahit di sekitar Cianjur sini pada sore harinya. Jam 15.45 saya berangkat dari kost. Muter-muter kota Cianjur, belum ketemu juga. Maklum, masih baru di sini jadi belum tahu lokasi tukang jahit. Sudah jam 17.00 lebih msih belum ketemu juga. Padahal adzan maghrib alias buka puasa sebentar lagi. Saya hampir putus asa, hingga untuk terakhir kalinya saya mencoba ke pasar di dekat Ramayana.
Seolah Allah menunjukkan kuasa-Nya. Ada sebuah toko yang memberikan jasa penggantian resleting. Saya segera masuk dan mengutarakan maksud saya. “Maaf, Mas. Resletingnya kosong!!” Haduh, kesimpulannya saya harus segera pulang sekarang. “Tapi, coba lihat dulu mas tasnya.” Saya sodorkan tas saya dan penjual itu melihat-lihat. Setelah mencoba resleting yang rusak dia mengambil tang. Dengan tang tersebut dia menekan kepala resleting beberapa kali dan eng....ing....engggg....resleting saya kembali normal sepeti semula. Alhamdulillah. Saya mau memberikan uang tapi dia menolak. Alhamdulillah, kupanjatkan doa untuknya agar Allah melapangkan rezekinya.
Senin, 23 Agustus 2010
Hari pertama mulai kerja saya ikut kegiatan P2TL. Unit ini adalah salah satu bidang yang ada di PT. PLN(Persero). Tugasnya adalah melacak pelanggan yang melakukan kecurangan dalam penggunaan tenaga listrik. Kalo boleh saya bilang, P2TL adalah polisinya PLN. Dari rumah ke rumah kami menelusuri tiap KWH Meter yang terpasang di rumah pelanggan. Mengapa KWH Meter? Karena kebanyakan kecurangan dilakukan melalui media ini. |
|
Buah Pikiran -
Cerpen
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Sunday, 22 August 2010 02:09 |
|
Pagi ini cerah sekali, lebih cerah daripada biasanya. Matahari sudah nongol sejak tadi. Sinarnya menghangatkan setiap sudut ruangan di muka bumi ini. Sebagian menembus celah-celah pepohonan, memunculkan pemandangan yang tak akan pernah aku lupakan. Burung-burung kecil terbang kesana-kemari, loncat sana loncat sini seolah sedang menari menyambut datangnya pagi. Jalan di depan rumahku mulai ramaui oleh lalu lintas beberapa warga yang hendak pergi ke pasar. Ada yang naik sepeda, ada yang jalan kaki tetapi ada juga yang naik sepeda motor meskipun hanya sedikit. Beberapa orang terlihat sedang menyapu halamannya masing-masing. Memang seperti itulah kebiasaan mereka di waktu pagi apalagi ini hari Minggu.
Aku menunggu di depan rumah. Beberapa hari yang lalu aku dan teman-teman sebayaku bersepakat untuk pergi memancing hari ini. Tadi malam kebetulan banyak laron yang keluar dari sarangnya. Kami menangkap cukup banyak untuk dijadikan umpan. Beberapa masih hidup hingga pagi ini tetapi banyak juga yang sudah mati, terutama yang ada di posisi paling bawah. Mungkin kehabisan nafas di sana.
Memang sulit jadi yang terbawah. Semuanya serba tidak menyenangkan. Seolah ia ada hanya untuk memperkokoh eksistensi bagi yang ada di atas. Bagaimana mungkin di katakan atas kalau tidak ada yang di bawah.
“Hai, Bas!” Beberapa anak datang sambil melambaikan tangan
“Hai, kok lama bener. Ntar keburu siang lho!” Jawabku
“Maaf. Tadi bantuin ibu dulu jemur baju. Jadinya telat deh.” Sahut yang lain.
“Ya, udah. Langsung berangkat aja yuk!”
“Bentar. Tak absen dulu biar afdhol.”
“Iya, deh!” Jawab mereka serempak.
“Andi!”
“Ada.” |
|
Last Updated on Sunday, 22 August 2010 02:19 |
|
Buah Pikiran -
Opini Pribadi
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Wednesday, 18 August 2010 21:36 |
|
Ikhlas adalah perbuatan yang sangat mulia. Bagi siapa saja yang bisa melakukannya maka pahala yang dijanjikan sangat luar biasa. Hal ini sesuai dengan kadar kesulitannya yang juga luar biasa. Sebenarnya ikhlas berhubungan erat dengan perasaan. Seberapa jauh kita bisa mengelola perasaan kita. Memang sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena kita tidak memerlukan modal apapun berupa materi. Susahnya karena kita memiliki ego yang selalu mengutamakan diri sendiri. Asal tahu saja, kawan. Ikhlas memberikan pelajaran kepada kita bahwa segala sesuatu harus ditengok dari semua sudut pandang, baik dari diri sendiri dan juga dari luar diri. Kalo kita hanya menengok sesuatu hanya dari sudut pandang diri sendiri, maka saya jamin tak akan ada kata ikhlas dalam kamus kehidupan kita. Allah berusaha mengajarkan bahwa dalam hidup ini kita juga harus menghormati orang lain.
Banyak sekali aplikasi ikhlas yang harus kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah ikhlas dalam hukum pinjam meminjam. Agar pembahasan tidak terlalu panjang maka saya khususkan bagi orang yang meminjamkan saja. Karena bagi orang yang meminjamkan, penerapan sifat ikhlas jauh lebih terasa daripada orang yang meminjam.
Meminjamkan sesuatu kepada orang lain adalah tindakan yang sangat mulia kawan. Kita membantu kesulitan orang lain sehingga ia terbebas dari kesusahan. Hanya saja kemuliaan itu tidak akan ada harganya jika tidak diikuti dengan ikhlas. Ikhlas dalam meminjamkan barang yang kita miliki kepada orang lain.
|
|
Buah Pikiran -
Nasehat
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Tuesday, 10 August 2010 20:53 |
|
Hari ini, tanggal 11 Agustus 2010 bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan 1931 H. Semua umat muslim di duni secara bersamaan melakukan salah satu ibadah wajib yang harus dilaksanakan yaitu puasa ramadhan. Satu bulan penuh menahan hawa nafsu yang bersifat duniawi. Satu bulan penuh menempa diri agar menjadi manusia yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Menjadi manusia yang dikategorikan “takwa” oleh Allah SWT. Ketika bertemu dengan bulan ramadhan ada satu kesan tersendiri yang pastinya kita rasakan. Mengingat bulan ramadhan adalah bulan yang paling berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Kita selalu teringat bagaimana kita menjalani bulan ramadhan pada tahun sebelumnya. Hal ini untuk mengoreksi, apakah kita bisa dikatakan berhasil pada tahun sebelumnya. Sehingga kita bisa meningkatkannya lagi pada tahun ini.
Sungguh luar biasa, kawan. Satu bulan ini adalah satu-satunya peluang yang tidak kita dapatkan daripada bulan lainnya. Satu peluang untuk memperbaiki diri menjadi manusia yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Ini adalah momen yang sangat tepat untuk menghilangkan kebiasaan jelek dan menambah kebiasaan baik. Karena memang Allah SWT telah menjanjikan kepada kita balasan yang luar biasa banyaknya jika kita mau dan mampu memenuhi kriteriia takwa yang Allah SWT sebutkan.
Maka sebenarnya, sebuah kerugian besar jika kita melakukan kegiatan sehari-hari pada bulan ramadhan sama seperti layaknya hari-hari pada bulan lainnya. Rugi besar. Ibarat kita ditawari dengan hadiah yang mobil tapi kita tidak mau mengambilnya. Justru yang diambil adalah sepeda butut tua yang sebentar lagi juga akan pensiun. |
|
Berita -
Nostalgia
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Friday, 06 August 2010 12:41 |
|
Sebuah kesyukuran, saya dilahirkan di sebuah desa yang masih sangat asri. Persawahan masih sangat luas dan beraneka ragam tanamannya. Rumahku sampai ke persawahan hanya berjarak kira-kira 200 meter. Sangat dekat. Sudah menjadi kebiasaan setiap berapa tahun persawahan yang dimiliki oleh penduduk kampung disewa oleh pabrik gula(PG Madukismo, pabriknya ada di kawasan madukismo, Yogyakarta) untuk ditanami tebu. Yang paling menyenangkan adalah ketika tebu yang sudah matang dan berada dalam proses panen. Para penduduk biasanya ramai-ramai pergi ke daerah persawahan yang yang sedang panen tebu. Para pemuda biasanya lebih suka meminta tebu yang matang dan diminum airnya, manis dan sangat enak. Sementara orang tua kebanyakan mencari batang tebu yang sudah kering atau daun tebu yang sudah kering untuk dijadikan bahan bakar memasak. Selain itu, anak-anak biasanya mencari “glagah” atau batang yang menghubungkan pohon tebu dengan bunganya. Yang sudah kering biasanya bisa dibuat mainan.
Nha, dalam proses panen selalu ada satu orang yang disebut mandor. Tugasnya mengawasi para penduduk agar tidak sembarangan mengambil tebu yang dipanen. Hal yang kami tangkap ketika mendengar kata “mandor” adalah orangnya pasti sangar, galak, dan tak segan-segan memarahi penduduk. Jelas saja kami, anak-anak, sangat takut jika bertemu dengannya. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Yang bertindak sebagai mandor adalah tetangga kami juga yaitu Pak Harto.
Alkisah, saya dan kakak-kakak saya diminta ibu untuk mencari “rempon” alias batang tebu yang sudah kering. Dengan bersepeda kami berangkat. Sampai di lokasi, kami langsung beraksi. Saya mencari dan mengambil semua batang tebu yang ada di tanah termasuk pucuk tebu yang belum kering sekalipun. Kakak saya yang pertama mengingatkan,”Itu bukan rempon, jangan diambil. Ntar dimarahi mandor!!” Saya membantah,”Ini kan pucuknya, ha bakalan dimarahi.” Kakak saya mengingatkan lagi tapi saya tetep ngeyel. Akhirnya saya memisahkan diri. |
|
Buah Pikiran -
Curhat
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Monday, 02 August 2010 03:06 |
|
Kejadiannya berawal pada senin malam, 28 Juli 2010. Dari jam 20.00 sampai 08.00 hari berikutnya ada gangguan jaringan listrik di tempat saya ditugaskan. Walhasil, nggak ada waktu buat tidur. Ditemani hawa dingin sambil memonitor penanganan gangguan di lapangan via radio saya standby di kantor sendirian. Antisipasi sudah saya lakukan dengan memakai jaket tebal plus kaos kaki lengkap. Hanya saja saya lupa memakai kaos tangan karena saya merasa bisa bertahan. Paginya sebenarnya tidak terasa mau sakit malah tetap semangat sampai sore saya bekerja. Alhamdulillah, malam harinya tidak ada gangguan. Sempat tidur nyenyak semaleman. Sayangnya, malam berikutnya ada lagi gangguan. Malam hari jam 23.00. saya standby lagi mpe jam 02.00 baru bisa tidur. Barulah paginya terasa ada yang beda dengan badan saya.
Hari kamis, saya harus membuat laporan yang belum juga selesai karena gangguan terus yang artinya tidak ada listrik. Saya kebut dari jam 06.00 sampai jam 10.30 siang. Alhamdulillah, selesai. Saya langsung meluncur ke kantor UPJ Mande yang jaraknya kurang lebih 10 km dari kantor di mana saya berada. Sambil menahan perasaan tidak enak di badan saya tetap ke sana. Supervisor ketemu tetapi pak manajer tidak ketemu. Beliau sedang ada rapat ke kantor APJ Cianjur. Saya putuskan untuk menyusul ke sana karena paginya, jumat, laporan harus sudah disetor ke Bandung.
Setengah perjalanan saya tempuh dari Mande sampe Cianjur. Sampai di sana, sialnya rapat sudah selesai. Saya cari pak manajer tidak ada, sudah pulang katanya. Uh, malangnya nasibku. Tidak masalah. Saya balik lagi ke Mande, siapa tahu beliau ada di sana. Dengan motor kesayangan saya Honda Kirana tahun 2004 saya susuri kembali jalan menuju Mande. |
|
Buah Pikiran -
Cerpen
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Saturday, 24 July 2010 23:37 |
|
Udara di sini membuat seluruh tubuhku berkeringat. Panas. Matahari bersinar memancarkan panasnya seperti tak peduli pada orang-orang di sini yang semakin kegerahan. Memang beda dengan tempat asalku di Kalimantan di Jawa lebih panas. Tak tahu mengapa padahal dari garis khatulistiwa lebih dekat Kalimantan daripada Jawa. Tetapi untung saja aku mempunyai ibu yang selalu di dekatku, siap melayani apapun kebutuhanku dan bagaimanapun keadaannya. “Sss…..t, jangan menangis terus!” Ibuku mengibaskan kipas di tangannya sambil mengendong aku. Aku ingin bicara banyak padanya tetapi kalau aku bicara ibu selalu menanggapi dengan perkataan :”Jangan menangis!” dan dikiranya aku lapar. Disodorkannya sebotol susu ke mulutku. Aku tak mau minum. Aku tak lapar. Aku hanya ingin mengungkapkan rasa sayangku padanya.
“Dari tadi nangis terus, sini gantian , biar aku yang gendong. Anak manis sama bapak, ya!” Kali ini aku pindah tangan. Ayahku sangat baik, kadang diceritakannya tentang bebek, tentang rosul, tentang islam dan masih banyak lagi. Beliau selalu mengatakan, “Besok kalau sudah besar harus jadi orang yang bertakwa, berbakti pada orang tua.” Begitu katanya.
Aku dibawa keluar oleh bapakku. Aku diam, soalnya kalau ngomong akan membuat ayah dan ibuku sedih dan murung. Udara lebih segar di luar. Banyak pepohonan, itulah yang aku suka di Jawa. Di Kalimantan juga ada pohon tetapi beda dengan di sini. Di sini pohonnya kecil-kecil, aku bisa menyentuh ujungnya, itupun kalau ada yang menolongku. Sementara ayahku terus berjalan melewati halaman, masuk ke jalan depan rumah lalu belok kiri. Aku mengamat-amati pemandangan di sekitar jalan.
“Lihat. Orang-oranmg sedang gotong-royong.” Sambil memutar badan ayah menghadapkan mukaku ke orang-orang di jalan yang sedang ramai. Rupanya ini yang dinamakan gotong-royong. Sangat beragam pekerjaan mereka. Ada yang mengambil pasir, menata batu, ada juga yang banyak omong, tuding sana tuding sini.
“Yang menunjuk-nunjuk iu pemimpinnya, Nak. Kalau sudah besar kamu juga harus jadi pemimpin. Jangan hanya jadi kacung yang kerjaannya hanya diperintah orang.” Kami berhenti di atas jembatan, kira-kira lima meter dari orang-orang yang sedang gotong-royong. Aku terus mencoba menangkap apa yang dikatakan ayah.
Kuperhatikan mereka sangat bersemangat. Diantara orang-orang itu terlihat seorang anak, tapi agaknya aneh. Celananya pendek hitam dan telanjang dada. Ia juga memperhatikan orang-orang tapi tak ikut bekerja. Aku memperhatikannya dari jauh. |
|
Last Updated on Saturday, 24 July 2010 23:45 |
|
Berita -
Galery Foto
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Saturday, 24 July 2010 00:10 |
|
Alhamdulillah, sekarang saya sudah bekerja kawan. Di PT. PLN(Persero) bidang distribusi Jawa Barat dan Banten. Tepatnya di kota Cianjur. Nha, kali ini saya tampilkan salah satu kenangan bekerja di Cianjur. Foto ini diambil dari pinggir danau tempat waduk Jatiluhur berada. Tepatnya di desa Sukasari. Perjalanan ke sana memiliki tujuan utama untuk melakukan pemeliharaan jaringan listrik berupa pemangkasan pohon di sekitar kawat penghantar dan penggantian trafo SUS yang sudah mengalami kebocoran.
Ini adalah kali pertama saya datang ke sana. Sudah sangat terkenal daerah ini yang lebih dikenal dengan Gunung Buled. Tempatnya paling jauh jika diukur dari kantor tempat saya bekerja. Selain tempatnya yang jauh, medan yang dilalui juga sangat menantang. Hutan belantara yang masih asri dan jalan berkelok-keok serta keadaan jalan yang jauh dari layak. Sempet beberapa kali mobil yang saya tumpangi terperosok sehingga harus didorong.
Berangkat dari kantor pukul 10.00. Awalnya saya pengin bawa baju ganti tetapi teman kerja (Haris) bilang,”Ah, ntar sore juga dah pulang.” Jadi saya batalkan, eh ternyata mpe nginep beneran. Jadi dua hari ga mandi...hehehehe... Sambil menelusuri jalan kami mengamati keadaan di sekitar kawat penghantar. Jika ada yang membahayakan maka kami berhenti dan melakukan pemangkasan(tepatnya saya cuman menganwasi...he3x...).
Jam 13.00 kami tiba di puncak pegunungan, mencari tempat lapang dan melakukan makan bersama. Sungguh kawan, di saat seperti ini makanan apapun jadi enak rasanya. Tidak terlalu istimewa baik lauk maupun nasinya tetapi rasanya jauh lebih enak daripada masakan padang. Perjalanan kami lanjutkan untuk menuruni bukit. |
|
Last Updated on Saturday, 24 July 2010 00:20 |
|
Buah Pikiran -
Opini Umum
|
|
Written by adnan anwar
|
|
Friday, 23 July 2010 00:09 |
|
Akhir-akhir ini marak sekali pemberitaan tentang banyaknya kejadian tabung gas meledak. Dari sekian media massa yang saya lihat dan saya baca, semuanya menyalahkan pemerintah dan PT. Pertamina sebagai perusahaan yang mengeluarkan produk tersebut. Sebagai manusia yang berpendidikan sudah selayaknyalah kita memandang segala sesuatunya dengan arif dan bijaksana. Benarkan kejadian ini, yang sudah sangat jelas merugikan rakyat kecil, adalah murni kesalahan pemerintah dan PT. Pertamina? Yuk, kita bahas bersama-sama. Sebenarnya saya kurang setuju dengan istilah “TABUNG GAS MELEDAK”. Benarkah kejadiannya memang tabungnya meledak? Saya sedikit menyangsikan. Dari media massa sendiri sudah sering menyebutkan bahwa awalnya tercium gas yang menandakan ada gas yang keluar dari tabung. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa keluarnya gas dari tabung tidak hanya karena tabungnya tang bocor tetapi bisa juga selangnya. Hal ini kurang disoroti oleh media massa sepertinya.
Begitu banyaknya sorotan tentang tabung gas yang tidak sesuai standart kelayakan tetapi tidak diimbangi dengan banyaknya juga selang tidak sesuai standar. Menurut pemikiran saya, kemungkinan selang bocor lebih besar daripada tabung gasnya yang bocor. Ketika gas sudah memenuhi ruangan maka seperti yang diiklankan di televisi oleh PT. Pertamina, buka semua jendela dan pintu dan bawa gas keluar ruangan(jangan kena matahari langsung). Dan jangan menyalangan api atau listrik. Dari berita di televisi kejadiannya adalah pengguna sudah tahu ada bau gas tetapi tidak melaksanakan prosedur di atas sehingga jelas saja gas yang sudah ada di ruangan terbakar dan membakar apa saja yang ada di situ. Nha, kejadian seperti ini apakah bisa disebut tabung gas meledak? Walaupun akhirnya nanti, api akan merambat ke sumber bocornya gas, akhirnya masuk ke tabung, dan membuat tabung meledak. |
|
|